Home Health Sebagai orang Indonesia, apakah saya rawan terhadap diabetes?

Sebagai orang Indonesia, apakah saya rawan terhadap diabetes?

49
0

Sebagai orang Indonesia, apakah saya rawan terhadap diabetes?

Ya, karena Anda dan kita semua termasuk etnis Asia, sehingga mudah kena diabetes. Hasil pe- t nelitian selama ini menunjukkan beberapa ras tertentu mempunyai risiko lebih tinggi kena diabetes tipe 2. Selain ras-ras di Asia (Indonesia, China, Filipina, Jepang, Korea, India, dan Vietnam), juga suku Indian di Amerika, orang Amerika Hispanik terutama di Mexico, dan orang Amerika yang menetap di Afrika. Sedangkan diabetes tipe 1 banyak diidap bangsa Finlandia mencapai 40% dari populasi), sedangkan yang mencapai 20% dari populasi adalah Norwegia, Irlandia, Swedia, Denmark, dan Skotlandia. Selain itu, Selandia Baru dan Australis 20% dari populasi mengidap diabetes tipe 1 tetapi suku

asli Selandia Baru, Maori, 20% populasi mengidap diabetes tipe 2. Nah, sebagai orang Indonesia, sebaiknya Anda dan kita semua waspada menjaga diri agar tidak kena diabetes tipe 2, terutama jika sudah divonis pre­diabetes atau Anda mempunyai faktor-faktor risiko seperti hipertensi, obesitas, dan/atau kolesterol tinggi.

Saya termasuk bertubuh gemuk. Apakah saya rentan terhadap diabetes?

^ Ya. Obesitas sangat berhubungan dengan dia­betes tipe 2. Penelitian selama ini diprediksi t bahwa 80—90% diabetisi tipe 2 memiliki berat badan berlebihan alias obes. Kalau dulu kegemukan identik dengan kemakmuran, maka kini obesitas merupakan kelainan yang disebut the new world syndrome. Angka statistiknya terns meningkat dari tahun ke tahun di mana-mana di seluruh dunia. Obesitas kini diakui berdampak pada kesehatan dan psikososial. Orang gemuk mempunyai jaringan lemak yang berlebihan yang menumpuk di bawah kulit. Jaringan lemak tersebut akan menghambat kerja insulin (insulin resistance), terutama jika lemak tubuh terkumpul di pinggang (central obesity). Ini menyebabkan lemak memblokir kerja insulin karena menutup reseptor sehingga glukosa tidak dapat diangkut ke sel-sel dan menumpuk di dalam darah. Akibatnya kadar gula darah meningkat.

Selain itu terjadi pula gangguan pemecahan lemak dengan akibat otot-otot tidak dapat memakai asam lemak yang beredar. Terjadi penumpukan lemak. Penumpukan

lemak dan resistensi insulin akan menimbulkan penyakit jantung, stroke, dan gangguan pembuluh darah lainnya.

Hubungan antara diabetes dan obesitas meliouti ba- nyak faktor antara lain gangguan distribusi lemak dalam tubuh, perubahan metabolisme lemak dan otot, pening- katan karbohidrat dan lemak yang dipengaruhi beberapa hormone dan lain-lain. Oleh karena itu, sebaiknya ubah gaya hidup Anda. Turunkan berat badan Anda dengan bantuan ahli gizi atau ahli terapi nutrisi. Selain itu Anda melakukan olahraga secara teratur tiga kali seminggu @ 30 menit sampai satu jam. Olahraga akan membakar lemak tubuh.

^         Sebetulnya masalahnya adalah diabetes merupakan

salah satu faktor stroke. Dan diabetes menempati 1 urutan kedua faktor stroke. Faktor utama adalah hipertensi. Oleh karena itu, diabetisi rawan terkena stroke. Terutama jika diabetes disertai faktor-faktor lainnya seperti hipertensi, obesitas, kolesterol LDL tinggi, merokok, kurang olahraga, dan lain-lain. Semua ini memicu bertumpuknya produksi radikal bebas yang menimbulkan aterosklerosis yang menyebabkan stroke. Diabetes juga mempermudah komplikasi perdarahan pada pembuluh darah otak yang menyebabkan stroke dengan perdarahan. Menurut pene- litian para ahli, kadar glukosa darah di atas 200 mg/dl akan meningkatkan kemungkinan perdarahan 25%.

Apa yang harus dilakukan para diabetesi agar tercapai sasaran faktor risiko?

Penderita diabetes diminta untuk mengontrol hal-hal berikut ini agar tercapai sasaran faktor risiko:

  • Tekanan darah di bawah130/80 mmHg.
  • Kolesrerol LDL dibawah 100 mg/dl.
  • Trigliserida di bawah150 mg/dl.
  • Kolesterol HDL di atas40 mg/dl.
  • HbAlc di bawah 7%.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here